Kuala Kapuas

Tingkatkan Kesadaran Kesehatan, RSUD Kapuas Berikan Edukasi tentang Tuberkulosis di Poliklinik Paru

Kuala Kapuas, spiritnusantara.com – RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas menggelar edukasi kesehatan tentang Tuberkulosis (TB) bagi pasien dan pengunjung di ruang tunggu Poliklinik Paru, Kamis (17/9) pukul 09.00 WIB.

Edukasi disampaikan oleh dr. Aina Nurlaina, Sp.P, didampingi staf Poliklinik Paru dan Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS). Kegiatan berlangsung di Gedung Paviliun, Jalan Tambun Bungai No. 16, Kabupaten Kapuas.

Dalam penyuluhannya, dr. Aina menjelaskan bahwa Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan paling sering menyerang paru-paru.

Ia juga menegaskan bahwa TB bukan penyakit keturunan serta bukan disebabkan oleh kutukan, guna-guna, maupun santet. Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai TB sekaligus mendorong kesadaran untuk melakukan pencegahan dan pengobatan secara tepat.

Dalam edukasinya, dr. Aina menjelaskan bahwa Tuberkulosis (TB) dapat menular melalui percikan dahak (droplet) ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara tanpa menutup mulut maupun menggunakan masker. Kuman TB yang terhirup dapat masuk ke paru-paru dan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Seseorang dengan daya tahan tubuh lemah lebih berisiko mengalami sakit TB. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk terus-menerus lebih dari dua minggu, batuk berdarah, sesak napas, nyeri dada, nafsu makan menurun, berkeringat di malam hari, demam berkepanjangan, serta penurunan berat badan.

Pasien yang telah dinyatakan menderita TB wajib menjalani pengobatan secara teratur minimal enam bulan dengan pendampingan Pengawas Menelan Obat (PMO) serta pemeriksaan dahak sesuai jadwal. Selama pengobatan, pasien juga perlu memperhatikan kemungkinan efek samping obat dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika mengalami keluhan.

dr. Aina menekankan pentingnya menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Pengobatan yang terhenti sebelum waktunya dapat menyebabkan kuman TB menjadi kebal terhadap obat, memperpanjang masa pengobatan, meningkatkan biaya, dan meningkatkan risiko penularan kepada orang lain.

“Pengobatan TB harus dijalani sampai tuntas agar pasien dapat sembuh dan mencegah terjadinya TB yang kebal obat,” tegasnya.

Sebagai langkah pencegahan TB, masyarakat diimbau menerapkan pola hidup sehat, mulai dari mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, tidak merokok, serta menjaga sirkulasi udara dan kebersihan rumah. Vaksinasi BCG pada anak juga penting untuk membantu mencegah TB berat.

Selain itu, etika batuk dan bersin perlu diterapkan untuk mencegah penularan. “Saat batuk atau bersin, tutup hidung dan mulut dengan lengan atau gunakan masker agar tidak menularkan penyakit kepada orang di sekitar,” . (Vna)