Kuala Kapuas

Cegah Diabetes pada Lansia, RSUD Kapuas Gelar Edukasi Kesehatan di Pulau Telo

Kuala Kapuas, spiritnusantara.com – RSUD Kapuas menggelar edukasi kesehatan tentang diabetes melitus pada lanjut usia di Aula Desa Pulau Telo, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam dr. Ida Swasty, Sp.PD., dan dr. Joandrew Gultom, Sp.PD., didampingi Tim Perawat Geriatri RSUD Kapuas.

Kegiatan dibuka Kepala Desa Pulau Telo Muhammad Iwu Iyansyah, S.I.Kom., M.I.Kom., bersama Kepala Puskesmas Pulau Telo dan diikuti masyarakat setempat. Ia mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya mengenai pencegahan dan penanganan diabetes pada lansia.

Tim Geriatri RSUD Kapuas mengajak masyarakat Desa Pulau Telo mengendalikan diabetes melitus untuk mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, dan berkualitas. Pesan tersebut disampaikan melalui edukasi kesehatan yang dipimpin Karu Geriatri Winda Meila, S.Kep., Ns., bersama tim.

dr. Ida Swasty, Sp.PD., menjelaskan bahwa diabetes melitus atau kencing manis merupakan penyakit kronis yang ditandai tingginya kadar gula darah akibat tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif atau kekurangan produksi insulin.

Diabetus Melitus Tipe 1 umumnya muncul pada usia muda, terjadi karena rusaknya sel beta di pankreas, sehingga memerlukan insulin eksogen (insukin injeksi) seumur hidup; disebabkan adanya autoimun.

Diabetes Melitus Tipe 2 adalah jenis diabetes yang paling sering terjadi, ditandai dengan resistensi insulin (tubuh kurang responsif terhadap insulin) dan gangguan produksi insulin secara bertahap.

Gejala utama klasik Diebetes Melitus antara lain sering kencing, cepat lapar, dan sering haus. Gejala tambahannya antara lain berat badan menurun cepat tanpa penyebab yang jelas, kesemutan, gatal didaerah kemaluan pada wanita, keputihan pada wanita, luka sulit sembuh, bisul yang hilang timbul, penglihatan kabur, cepat lelah, mudah mengantuk, dan impotensi pada pria.

Faktor resiko penyakit diabetes melitus yang tidak bisa diubah usia >40 Tahun, ada riwayat keluarga menderita DM, riwayat melahirkan anak dengan berat >4kg, dan riwayat berat badan pada saat bayi <2,5kg. Faktor resiko yang dapat diubah, yaitu berat badan yang berlebih, kurang aktifitas fisik, dislipidemia, riwayat penyakit jantung karena hipertensi dan diet tidak seimbang.

Diabetes melitus tipe 2 pada lansia membutuhkan perhatian khusus karena penurunan fungsi organ, risiko komplikasi yang lebih tinggi, serta kondisi kesehatan yang kerap disertai penyakit lain seperti hipertensi, jantung, dan gangguan ginjal. Penggunaan obat juga harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing untuk mencegah efek samping.

Jika tidak terkontrol, diabetes dapat memicu komplikasi serius, seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, gangguan penglihatan, kerusakan saraf hingga luka pada kaki, serta gangguan fungsi ginjal.

Bagi lansia yang telah terdiagnosis diabetes, penting mengikuti edukasi kesehatan, mengatur pola makan, berolahraga secara teratur, mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, serta memantau kadar gula darah. Penanganan bertujuan menjaga gula darah tetap terkendali tanpa memicu hipoglikemia, mencegah komplikasi, dan disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan setiap lansia.

Bahaya diabetes melitus yang tidak terkontrol dapat menyebabkan Hipoglikemia (kadar glukosa darah terlau rendah <70mg/dl) terjadi bila diabetesi minum obat tablet atau menggunakan obat suntik (insulin) disertai mengkonsumsi makan yang terlalu sedikit dan atau latihan fisik terlalu berat sehingga kadar glukosa darahnya turun terlalu rendah, respon diabetesi terhadap obat anti diabetes berlebihan, dan mengkonsumsi obat anti diabetes tidak sesuai petunjuk dokter.

Selain itu dapat menyebabkan hiperglikemi (kadar glukosa darah sangat tinggi >300mg/dl). Keadaan hiperglikemi dapat menyebabkan gangguan peurunan kesadaran (ketoasidosis), mengalami infeksi yang berulang, dan penurunan berat badan. Gejalanya yaitu mulut dan kulit terasa kering, sering merasa kehausan, pusing, penglihatan menjadi buram/kabur, buang air kecil meningkat, nafas terengah-engah dan bau nafas tidak sedap.

Apabila mengalami menyebabkan mual muntah hebat, nafas cepat dan dalam, kebingungan, dan dehidrasi berat. Mencegah komplikasi diabetes dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal seperti minum obat secara teratur sesuai anjuran dokter atau petugas kesehatan, jaga kadar gula darah (tes rutin kadar gula darah) dan check up, makan sehat dengan memperbanyak konsumsi sayut dan buah, kurangi lemak, gula, dan makanan asin.

Beraktifitas fisik secara teratur, waspada infeksi kulit dan gangguan kulit, periksa mata secara teratur, dan waspada jika ada kesemutan, rasa terbakar, hilangnya sensasi, dan luka pada bagian bawah kaki.

Dalam edukasi tersebut, masyarakat juga mendapat panduan pola makan dan aktivitas fisik bagi lansia dengan diabetes. Pola makan dianjurkan teratur, terdiri dari tiga kali makan utama dan 2–3 kali selingan sehat, dengan memperbanyak serat, sayur, buah rendah indeks glikemik, serta membatasi gula, garam, dan lemak.

Untuk aktivitas fisik, lansia dianjurkan berolahraga secara rutin sesuai kondisi, seperti jalan santai, bersepeda, senam lansia, atau yoga, dengan target sekitar 150 menit per minggu. Pemanasan dan pendinginan juga penting, serta menghindari olahraga berat maupun aktivitas saat cuaca terlalu panas.

Selain itu, senam kaki diabetes dianjurkan untuk membantu memperlancar sirkulasi darah, memperkuat otot kaki, dan mencegah kelainan bentuk kaki. Gerakannya sederhana, seperti mengangkat dan menurunkan tumit, menekuk serta meluruskan kaki, memutar pergelangan, hingga mencengkeram dan meluruskan jari-jari kaki.

Dengan memahami, mencegah, dan mengelola diabetes secara tepat, lansia dapat menjaga kadar gula darah, mencegah komplikasi, serta menjalani hidup yang lebih sehat. Pola makan seimbang, aktivitas fisik, kepatuhan terhadap terapi, dan pemeriksaan rutin menjadi kunci agar lansia tetap aktif, mandiri, dan berkualitas. (Vna)