Palangkaraya

DLH Catat Penurunan Pencemaran Udara di Palangka Raya Usai Hujan

Palangka Raya, spiritnusantara.com – Setelah sekitar empat bulan dilanda kemarau panjang dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hujan yang turun di wilayah Kalimantan Tengah disambut penuh syukur oleh masyarakat.

Hujan membawa harapan baru setelah warga cukup lama menghadapi cuaca panas, udara tercemar, dan terbatasnya aktivitas luar ruangan. Udara yang lebih sejuk serta berkurangnya debu menjadi kelegaan tersendiri bagi masyarakat.

Selama kemarau, dampak karhutla tidak hanya mengeringkan lahan, tetapi juga mengganggu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan kekhawatiran warga terhadap kesehatan, terutama anak-anak. Di sisi lain, petugas lapangan tetap berjibaku menangani kebakaran di tengah kondisi udara yang buruk.

Kini, turunnya hujan menjadi angin segar bagi masyarakat sekaligus harapan meredanya kabut asap yang selama berbulan-bulan mengganggu kehidupan warga.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palangka Raya, Untung Sutrisno, menyampaikan bahwa kualitas udara di Kota Palangka Raya mengalami perbaikan signifikan setelah diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Palangka Raya, parameter PM2.5 pada 25 Oktober 2026 sempat menyentuh angka 1.287 dengan kategori Berbahaya. Sehari kemudian, pada 26 Oktober 2026, posisinya masih berada di level tinggi yakni 1.216.

Perubahan positif mulai terlihat pada 27 Oktober 2026 seiring turunnya hujan. Nilai PM2.5 turun drastis menjadi 96,4 dengan status Tidak Sehat. Selanjutnya, pada 28 Oktober 2026 pukul 19.00 WIB, PM2.5 tercatat pada angka 39 (kategori Sedang).

Untung mengatakan, DLH Kota Palangka Raya rutin memantau kualitas udara melalui data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang diperbarui secara real-time dan dipublikasikan setiap hari melalui situs resmi serta media sosial DLH.

Selain pemantauan, berbagai upaya pencegahan karhutla juga dilakukan, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat dan pelaku usaha, pelatihan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB), hingga penyiraman lahan rawan kekeringan.

Untuk mengurangi dampak kabut asap, DLH turut membagikan masker, vitamin, dan susu bagi masyarakat serta petugas lapangan dengan dukungan pelaku usaha.

“Meski jumlahnya terbatas, bantuan ini merupakan bentuk upaya kami untuk menekan dampak asap di Palangka Raya,” ungkapnya.

DLH Palangka Raya juga terus mengedukasi masyarakat agar menghindari aktivitas penyebab polusi, seperti membakar sampah. Penyiraman tanaman di ruang terbuka hijau (RTH) turut ditingkatkan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Bersama perangkat daerah lainnya, tim DLH tergabung dalam Satgas Pemadaman yang rutin melakukan patroli dan penanganan titik api. Pemantauan kawasan rawan karhutla juga diperkuat menggunakan drone, baik siang maupun malam, guna mempercepat deteksi kebakaran.

Sebagai langkah jangka panjang, Pemkot Palangka Raya telah menetapkan Perda Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pengendalian Karhutla sebagai landasan penguatan upaya pencegahan dan penanganan kebakaran.

Untung berharap regulasi tersebut dapat diterapkan secara optimal sehingga risiko karhutla dan bencana kabut asap dapat ditekan. (Vna)